Inspirasi

Belajar Mencintai Olahraga Lari

oleh di Apr 25, 2018

ini merupakan kisi-kisi pendekatan diri Anda dengan olahraga lari.

Seorang teman selalu mengajak berlari sepulang saya bekerja. Ajakan tersebut tak pernah saya tolak mentah-mentah, karena selalu saya iya-kan jika memang bertepatan dengan jadwal latihan berlari disetiap minggunya. Suatu waktu kami menuntaskan cita-cita yang sulit tercapai di hari-hari sebelumya.

Singkat cerita, ketika kami berbarengan melakukan jogging di putaran kelima, teman saya tiba-tiba berhenti dengan membungkukan badannya dengan lengan meraba lututnya. Dengan tergesa, saya menghapirinya karena dikira terkilir atau kram yang sering terjadi pada pelari pemula. Namun dengan nafas terengah-engah dia berkata, “Gila, Capek banget. Nafas saya gak kuat, Bro!”. Sontak saya tersenyum lega, karena bukan cedera serius yang dialami olehnya. Lalu saya mempersilahkan dirinya untuk berjalan dan memberitahukan agar ia untuk mengatur nafasnya dengan baik.

Ini bukan kali pertama saya mengalami kejadian tersebut, mungkin Anda sebagai pelari sudah paham akan terjadi hal demikian bagi pelari pemula. Namun apa solusinya ketika menghadapi persoalan tersebut? Sederhana saja, berikan sedikit tip tentang peregangan, dan berlarilah secara konsisten!

Menurut sebuah studi  dalam Journal of Experimental Biology, manusia mengalami efek neurobiologis -atau yang lebih dikenal dengan naman runner high- setelah latihan aerobik.

“Banyak manfaat berlari bagi tubuh Anda, namun manfaat mental dan psikologis ternyata lebih besar,” kata Jeff Galloway, mantan pelari Olimpiade Amerika yang juga penulis Running Until You’re 100.

Rasakan Manfaatnya

Para peneliti mengatakan bahwa manfaat ‘merasa nyaman’ setelah mengalami runner high usai berlari dapat memotivasi tubuh kita untuk berkembang lebih baik untuk berlari jarak jauh secara lebih efektif. Ingat, nenek moyang jaman dulu mengandalkan kemampuan berlarinya untuk berburu dan menghidar dari serangan binatang buas.

“ Teori menyatakan bahwa proses seleksi alam akan mendorong para pelari,” menurut penulis studi David Raichlen, Ph. D., seorang antropolog di Universitas Arizona. Dan Runner High salah satunya yang mendorong nenek moyang kita untuk berlari lebih lama dan lebih jauh. Ketika Anda berlari, otak akan menghasilkan endorfin, zat kimia saraf alami yang dapat mengurangi rasa sakit serta mampu meningkatkan suasana hati Anda. Itu mengapa banyak orang mengalami adiksi terhadap olahraga lari.

Dok .123RF

Namun bagaimana cara belajar untuk mempertahankan hal tersebut? Simak tip di bawah ini:

1. Jadi supporter bagi diri sendiri

Buat kalimat sakti yang Anda percaya akan menutupi kegagalan Anda dalam latihan. Dengan mengatakan mantra positif sebelum berlari, maka Anda akan mulai mengubah pola pikir Anda yang dapat mengalahkan pikiran negatif ketidakmampuan Anda menghadapai latihan. Kontrol tersebut terdapat dalam Lobus Frontal dalam otak, yang bertanggung jawab untuk mengangkat suasana hati. Dan dorongan suasana hati hanya akan menguat ketika reseptor di titik balik otak Anda mulai terpacu ketika Anda berlari.

2. Tambah Interval

Bagi pemula, cara terbaik untuk memudahkan lari adalah dengan berlatih dengan metode berlari-berjalan. “Mulailah berlari selama 30 detik, kemudian berjalanlah selama 1 menit,’ saran Matt Fitzgerald, Penulis Run Faster from the 5K to the Marathon. Peneliti asal Inggris pernah menemukan bahwa orang menikmati lari interval berintensitas tinggi daripada jogging “lambat dan stabil” yang konsisten pengarahan gaya yang moderat. Meskipun peserta penelitian menilai latihan intensitas tinggi lebih sulit, mereka juga mengklarifikasinya lebih menyenangkan. “Interval berintensitas tinggi tentunya harus lebih pendek dari pemulihan jogging,” ujar Fitzgerald.

3. Luar ruangan lebih baik

Lagi-lagi, jangan terpaku oleh kegiatan olahraga di dalam ruangan yang membuat diri Anda jenuh dan monoton. “Anda secara alami akan berlari lebih cepat di luar ruangan,” ungkap Fitzgerald. Dalam sebuah studi di Unversitas Stockholm, Swedia, para partisipan dipantau ketika berlari di trek outdoor dan treadmill di laboratorium. Para partisipan kemudian teridentifikasi, bahwa mereka yang berlari di luar ruangan lebih sedikit mengerahkan tenaga daripada mereka yang berlari di dalam ruangan.

 

Anda pernah mengalami hal tersebut? Berbagi cerita dengan kami disini.

Berangkat dari kecintaan terhadap alam membuat saya mencoba untuk mengawali berlari dengan trail run, karena alam banyak mengajari saya tentang kehidupan yang spektakuler ini. Jika dengan berlari mampu memperbanyak ilmu pengetahuan, lalu mengapa saya harus berdiam diri di depan televisi saja?!

Lokasi
Indonesia
Jumlah Pos
33
Bergabunglah Dengan Diskusi