Wawancara

Santih Gunawan: Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati

oleh di Apr 4, 2018

Olahraga merupakan terapi yang paling mujarab bagi dirinya.

Bagi seorang wanita kelahiran Pangkal Pinang ini, lari sudah menjadi obat bagi tubuhnya. Pasalnya, kesehatan menjadi hal yang paling krusial untuk dirinya yang selalu menyibukkan kegiatan sehari-harinya sebagai pekerja kantoran. Olahraga merupakan candu bagi seseorang yang hobi membaca ini, dirinya rela traveling untuk mengikuti berbagai macam lomba marathon. Dengan antusias, Santih berbagi pengalamannya pada tim RunSociety Indonesia.

RS: Kapan Anda mengawali lari?

SG: Di tahun 2013, waktu itu ikut 5k di Jakarta Marathon.

RS: Apa tujuan Anda berlari?

SG: Untuk menjaga kebugaran tubuh serta mempertahankan gaya hidup sehat. Dimana dalam kegiatan sehari-hari kita yang hidup di kota besar sangat sedikit bergerak, makan yang kurang sehat, tingkat stres yang tinggi, selalu berada di dalam ruangan dan kebanyakan duduk. Dari keadaan tersebut kita tahu bahwa itu sangat tidak baik untuk kesehatan tubuh, dan ditambah biaya pengobatan pun sangat mahal saat ini.

Maka untuk mencegah sakit mulailah aktif berolahraga yang paling mudah, yaitu berlari. Jika memperhatikan kebiasaan di luar negeri, joging atau berlari di pagi hari sudah merupakan gaya hidup penduduknya untuk tetap aktif dan sehat. Itu yang membawa saya menjadi terbiasa untuk berlari.

RS: Siapa pelari inspirasi Anda?

SG: Tidak ada yang spesifik, karena saya senang belajar dari setiap orang. Termasuk atlet baru, karena setiap orang memiliki keunikan dan kita bisa banyak belajar dari mereka.

RS: Road or Trail?

SG: Suka keduanya! Karena untuk beberapa perlombaan perlombaan di road bisa sangat menyenangkan. Namun untuk mendapatkan petualangan yang baru, pengalaman, dan dibumbui pemandangan yang indah serta udara segar, ya.. saya lebih suka trail running.

RS: Prestasi terbaik Anda?

SG: Mendapatkan podium di beberapa lomba. 3rd position Barelang Bridge Marathon 2017 age category, 5th winner Borobudur Marathon 2017 age category, dan My Personal Best utuk Full Marathon di Mumbai Marathon 2018, dengan catatan waktu 4.36.

Dok. Pribadi

RS: Pengalaman tak terlupakan saat lomba lari?

SG: Tahun 2014, menjuarai Best Costume di Jakarta Wine and Cheese Run (sekarang Jakarta Fashion and Food Festival Run). Pemenang diberi berkesempatan mengikuti lomba marathon di Bordeaux, Perancis. Saat itu pertama kalinya saya harus berlari Full Marathon di perkebunan anggur dan melewati winery dengan memergunakan kostum. haha..

RS: Lomba dan Medali yang berkesan?

SG: Medali sudah berapa banyak yang menggantung, namun saya selalu mengkategorikan tempat khusus ultra running dengan World Major Marathon. Medali TITI 100 Malaysia jadi yang paling berkesan bagi saya, karena selain bentuknya bagus, tebal dan berat, dan itu juga merupakan medali lomba lari 100k pertama saya.

RS: World Major Marathon apa saja yang pernah diikuti?

SG: Tokyo Marathon 2015, Berlin Marathon 2016, NYC Marathon 2017 dan berencana mengikuti London Marathon pada 22 April 2018 nanti.

RS: Apa yang Anda harapkan dari Gold Label Marathon?

SG: Berkesempatan mengikuti WMM atau Marathon diluar negeri adalah untuk memberi pengalaman baru. Karena akan sangat menarik bila kita bisa berlari di kota New York misalnya, yang biasanya sangat padat penduduknya, namun saat itu kita bisa melaluinya dengan berlari, dan juga dapat melihat dari jarak dekat beberapa icon kota, serta berfoto langsung di tempat tersebut.

Selain itu, pengalaman berlari diluar berkontribusi dalam menambahanya pengetahuansaya terhadap jalannya suatu perlombaan. Dari mulai perlombaan yang diselenggarakan dan diatur dengan sangat rapi yang memberikan kepuasan bagi para pesertanya. Ini pula yang menjadi cita-cita saya suatu hari nanti, dapat berkontribusi pada suatu perlombaan di tanah air yang akhirnya dapat disebut sebagai perlombaan lari terbaik dan memberikan kepuasan bagi para pesertanya.

Dok. Pribadi

RS: Yang mengalahkan Anda untuk berlari?

SG: Ngantuk haha.... Karena jika ada kegiatan sampai larut malam, biasanya malas untuk bangun pagi. Karena bangun siang dan cuaca diluar menjadi tidak bersahabat untuk berlari.

RS: Rencana mengikuti lomba lari apalagi dan apa misinya?

SG: Tambora Lintas Sumbawa 4 - 7 April 2018 dengan berlari relay 320 km, masing - masing berlari 160 km. Target saya setelah mengikuti lomba 100k, baik road maupun trail, serta London Marathon. Dengan berlari sekaligus beramal untuk Non Profit Organization YHA (England & Wales) yang bergerak untuk memberdayakan anak-anak muda dengan aktif berkegiatan dan travelling.

RS: Harapan tentang lari di Indonesia?

SG: Dapat terus berkembang dan lebih memasyarakat di kota lain selain kota besar di indonesia, dengan tujuan untuk mempertahankan gaya hidup sehat. Biaya berobat sangat mahal, maka lebih baik mencegah dari pada mengobati.

Untuk para penyelenggara lomba lari berharap dapat membuat lomba lari yang lebih 'layak' serta memerhatikan keselamatan dan kepuasan peserta dengan tidak mengganggu kenyamanan publik. Sehingga bila ada lomba lari yang menggunakan fasilitas publik, masyarakat tidak menggerutu, namun justru ikut mendukung lomba tersebut. Karena pengalaman saya berlomba di luar negeri -khususnya jepang yang hampir setiap kotanya terdapat lomba marathon berskala internasional. Lomba lari menjadi salah satu penyumbang devisa bagi negara, karena mendatangkan pelari internasional serta pelancong yang hanya datang untuk sekedar datang untuk memeriahkan penyelenggaraan maraton tersebut.

RS: Ekspresikan "Lari" dalam 3 kata!

SG: Lari Itu Sehat!

Dok. Pribadi

 

Jika Anda memiliki cerita unik dan seru yang inspiratif bagi runners lainnya, mengapa tidak layangkan surat melalui e-mail redaksi kami?

Berangkat dari kecintaan terhadap alam membuat saya mencoba untuk mengawali berlari dengan trail run, karena alam banyak mengajari saya tentang kehidupan yang spektakuler ini. Jika dengan berlari mampu memperbanyak ilmu pengetahuan, lalu mengapa saya harus berdiam diri di depan televisi saja?!

Lokasi
Indonesia
Jumlah Pos
33
Bergabunglah Dengan Diskusi